Baduy (Orang Kanekes)


 


Kanekes
Baduy/Badui
Baduy-erin014-25.jpg
Keluarga Kanekes
Jumlah populasi
5.000 - 8.000
Kawasan dengan populasi yang signifikan
Banten, Indonesia
Bahasa
Dialek Baduy dari Sunda
Agama
Hinduisme (Sunda Wiwitan), Islam, Buddha (Minoritas)
Kelompok etnik terdekat
Sunda














Orang Kanekes atau orang Baduy/Badui adalah suatu kelompok masyarakat adat Sunda di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Populasi mereka sekitar 5.000 hingga 8.000 orang, dan mereka merupakan salah satu suku yang menerapkan isolasi dari dunia luar. Selain itu mereka juga memiliki keyakinan tabu untuk difoto. Selengkapnya >>>

Biografi Sultan Hasanuddin Banten

Selengkapnya >>>

Kesaktian Sultan Agung Mampu Menghilangkan Singgasana

 
Kerajaan-kerajaan zaman dulu di tanah air mempunyai ensiklopedia klenik yang menarik. Seperti kisah Sultan Agung dengan Ki Juru Taman, abdinya yang berwujud raksasa siluman. Karena kesaktiannya, Juru Taman selalu mendapat kepercayaan dari Sultan Agung untuk melaksanakan tugas-tugas yang penting dan berat. Tugas-tugas ini adalah tugas negara yang rahasia. Juru Taman itu dulunya abdi Kanjeng Panembahan Senapati, kakek Sultan Agung. Ketika terjadi peperangan di Pajang, Juru Taman berhasil membunuh sultan Pajang. Itulah sebabnya Panembahan Senapati sangat senang kepadanya. Sultan Agung menerima Juru Taman sebagai suatu wasiat yang diwariskan kakeknya almarhum. Selengkapnya >>>

SILSILAH SULTAN BANTEN

KETERANGAN SILSILAH SULTAN BANTEN DAN PUTRANYA

I. SYARIF HIDAYATULLAH – SUNAN GUNUNG JATI

ANAK-ANAKNYA ADALAH:
1. Ratu Pembayun.
2. Pangeran Pasarean
3. Pangeran Jayalalana
4. Maulana Hasanuddin
5. Pangeran Bratakelana
6. Ratu Winaon
7. Pangeran Turusmi


II. MAULANA HASANUDDIN – PANEMBAHAN SUROSOAN (1552-1570)

ANAK-ANAKNYA ADALAH:
1. Ratu Pembayun Fatimah
2. Maulana Yusuf
3. Pangeran Arya Japara
4. Pangeran Suniararas
5. Pangeran Pajajaran

6. Pangeran Pringgalaya
7. Pangeran Sabrang Lor
8. Ratu Keben
9. Ratu Terpenter
10. Ratu Biru
11. Ratu Ayu Arsanengah
12. Pangeran Pajajaran Wado
13. Tumenggung Wilatikta
14. Ratu Ayu Kamudarage
15. Pangeran Sabrang Wetan

III. MAULANA YUSUF – PANEMBAHAN PAKALANGAN GEDE ( 1570-1580)

ANAK-ANAKNYA ADALAH:
1. Pangeran Arya Upapati
2. Pangeran Arya Adikara
3. Pangeran Arya Mandalika
4. Pangeran Arya Ranamanggala
5. Pangeran Arya Seminingrat
6. Ratu Demang
7. Ratu Pacatanda
8. Ratu Rangga
9. Ratu Ayu Wiyos
10. Ratu Manis
11. Pangeran Manduraraja
12. Pangeran Widara
13. Ratu Belimbing
14. Maulana Muhammad

IV. MAULANA MUHAMMAD PANGERAN RATU ING BANTEN (1580-1596)

1. Pangeran Abdul Kadir

V. SULTAN ABDUL MUFAKHIR MAHMUD ABDUL KADIR-KENARI (1596-1651)

1. Sultan Abul Maali Ahmad Kenari (Putra Mahkota.)
2. Ratu dewi
3. Ratu Ayu
4. Pangeran Arya Banten
5. Ratu Mirah
6. Pangeran Sudamanggala
7. Pangeran Ranamanggala
8. Ratu Belimbing
9. Ratu Gedong
10. Pangeran Arya Manduraja
11. Pangeran Kidul
12. Ratu Dalem
13. Ratu Lor
14. Pangeran Seminingrat
15. Ratu Kidul
16. Pangeran Arya Wiratmika
17. Pangeran Arya Danuwangsa
18. Pangeran Arya Prabangsa
19. Pg. Arya Wirasuta
20. Ratu Gading
21. Ratu Pandan
22. Pangeran Arya Wiraasmara
23. Ratu Sandi
24. Pg. Arya Jayaningrat
25. Ratu Citra
26. Pg. Arya Adiwangsa
27. Pg. Arya Sutakusuma
28. Pg. Arya Jaya Sentika
29. Ratu Hafsah
30. Ratu Pojok
31. Ratu Pacar
32. Ratu Bangsal
33. RatuSalamah
34. Ratu Ratmala
35. Ratu Hasanah
36. Ratu Husaerah
37. Ratu Kelumpuk
38. RatuJiput
39. Ratu Wuragil

PUTRA MAHKOTA SULTAN ABUL MAALI AHMAD
ANAK-ANAKNYA diantaranya adalah:

1. Abul Fath Abdul Fattah
2. Ratu Panenggak
3. Ratu Nengah
4. Pangeran Arya Elor
5. Ratu Wijil Ratu Puspita


VI. SULTAN AGENG TIRTAYASA-ABUL FATH ABDUL FATTAH (1651-1672)

1. Sultan Haji
2. Pg. Arya Abd. Alim
3. Pg. Arya Ingayudadipura
4. Pg. Arya Purbaya


VII. SULTAN ABUN NASR ABDUL KAHAR-SULTAN HAJI ( 1672-1687 )

1. Sultan Abdul Fadhal
2. Sultan Abul Mahasin
3. Pangeran Muhammad Tahir
4. Pangeran Fadluddin

VIII. SULTAN ABDUL FADHL ( 1687-1690)

Tidak Berputra

IX. SULTAN ABUL MAHASIN ZAINAL ABIDIN ( 1690-1733)

1. Sultan Muhammad Syifa
2. Sultan Muhammad Wasi

X. SULTAN MUHAMMAD SYIFA ZAINUL ARIFIN ( 1733-1750)

1. Sultan Muhamamd Arif
2. Ratu Ayu

XI. SULTAN SYARIFFUDIN RATU WAKIL ( 1750- 1752)

Tidak Berputra

XII. SULTAN MUHAMMAD WASI ZAINUL ALIMIN (1752-1753)

Tidak berputra

XIII. SULTAN MUHAMMAD ARIF ZAINUL ASYIKIN ( 1753-1773)

1. Sultan Abul Mufakhir Muhammad Aliyudin
2. Sultan Muhyiddin Zainussholihin

XIV. SULTAN ABUL MAFAKHIR MUHAMMAD ALIYUDIN (1773-1799)

1. Sultan Muhammad Ishak Zainul Muttaqin

XV. SULTAN MUHYIDDIN ZAINUSSHOLIHIN (799-1801)

1. Sultan Muhammad Shaffiuddun

XVI. SULTAN MUHAMMAD ISHAQ ZAINUL MUTTAQIN (1801-1802)
XVII. SULTAN WAKIL PANGERAN NATAWIJAYA (1802-1803)
XVIII. SULTAN AGILLUDIN (ALIYUDDIN II) (1803-1808)
XIX. SULTAN WAKIL PANGERAN SURAMANGGALA (1808-1809)
XX. SULTAN MUHAMMAD SYAFIUDDIN (1809-1813)

XXI. SULTAN MUHAMMAD RAFIUDDIN (1813-1820)

SIAPAKAH SULTAN BANTEN TERAKHIR ?

  







Apabila kita baca sejarah Banten, kita akan menemukan bahwa sultan Banten terakhir adalah Rafiudin yang memerintah dari 1813-1809. Pertanyaannya: benarkan Rafiudin adalah sultan Banten terakhir? Sejauh ini buku-buku sejarah Banten mengamukakan demikian. Namun pada tulisan ini saya akan menawarkan satu versi sejarah yang berbeda, bahwa sultan Banten terakhir bukan Rafiudin, melainkan Sultan Muhammad Safiudin. Lalu siapakan Rafiudin yang menggantikan posisi Sultan Muhammad Safiudin itu? Ratu Ayu Mintorosasi Mahayanti Hendrawardani (86), buyut dari Sultan Muhammad Safiudin memberikan penjelasannya kepada penulis di rumahnya di Bintaro Tangerang. Selengkapnya >>>

Langkah Dahwah Sunan Gunung Djati dari Cirebon ke Banten

 

Putera Sri Baduga Maharaja Raja Padjadjaran (Sunda-Galuh) yaitu Sang Surasowan di angkat menjadi raja di daerah (bupati) Banten pesisir yang berkuasa atas pelabuhan perdagangan yang ramai. Sanng Surasowan memiliki 2 anak yaitu Sang Arya Surajaya dan Nyi Kawunganten. Selengkapnya >>>

 

Sejarah Singkat Kesultanan Banten (Fase Berdirinya hingga Fase Keemasan)



Sebagai daerah sekaligus sebuah bangsa, Banten telah lama dikenal dalam peta masyarakat dunia. Berbagai sumber asing menyebutkan Banten (saat itu dikenal dengan Bantam) sebagai satu dari beberapa daerah yang menjadi rute pelayaran mereka, mulai dari sumber Cina yang berjudul Shung Peng Hsiang Sung (1430), hingga berita Tome Pires (1512). Pun dalam berbagai sumber pustaka nusantara, Banten dikenal dengan berbagai nama misalnya: Wahanten Girang dalam naskah Carita Parahiyangan (1580), Medanggili dalam Tambo Tulangbawang, Primbon Bayah, serta berita Cina (abad ke-13) dan lain-lain.
Selengkapnya >>>